|
|
Kamis, 09 September 2010 20:54 |
|
01 Februari 2010 | 16:21 | Politik
|
Berita Terkait |
| KPK diminta tindak lanjuti laporan dugaan korupsi Gubernur Papua |
Jakarta - Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif mengkhawatirkan Papua lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia karena situasinya sudah membahayakan.
"Kondisi di Papua itu seperti api dalam sekam. Kalau Papua lepas dari Indonesia, saya tidak bisa membayangkan lagi dengan provinsi yang lain," kata Buya Syafii, dalam jumpa pers Maarif Award 2010 di kantor Maarif Institute, Jakarta, Senin (1/2).
Buya mengatakan keadilan yang dicita-citakan pendiri bangsa sejak proklamasi, sampai saat ini belum terwujud di Indonesia. "Keadilan masih jauh dari lorong sejarah," katanya.
Menurutnya, kekayaan alam Papua disedot oleh pemerintah tanpa mempedulikan kemaslahatan dan kemakmuran rakyat Papua sendiri. "Tambang diambil, hutan dieksploitasi, tapi rakyat diabaikan," katanya.
Apabila paradigma keadilan digunakan oleh pemerintah untuk pembangunan di Papua, Buya yakin rakyat Papua akan ikhlas tetap menjadi warga negara Indonesia. "Tetapi kalau mereka (Papua) lepas dari Indonesia, saya pikir belum siap karen SDM belum siap," katanya.
Sama seperti yang terjadi di Timor Leste, Buya Syafii melihat ada penyesalan pada rakyat Timor Leste untuk berpisah dengan Indonesia karena belum siap.
(new/ant)
Artikel, opini, suara pembaca, dan konsultasi hukum kirim ke redaksi@primaironline.com
Informasi pemasangan iklan hubungi Septaningsih di septa@primaironline.com, Telepon/Fax (+62 21) 52960435, hp 08129408797
|



